Sabtu, 07 September 2019

Ekspedisi Sang Katak Dalam Mencari Jati Diri



Katika matahari belum tampak sempurna, kawanan katak berangkat untuk melakukan perjalananya menuju lembah dibalik bukit. Waktu terus bergulir koloni katak berjumpa dengan banyak hewan, salah satunya maha guru (kancil) sampai pada suatu waktu ketika berhenti untuk beristirahat kawanan katak pun berhitung , 1,2,3,4,5......28,29 ada salah satu katak yang tertinggal entah tersesat dimana? Ada yang menjawab tadi di sebelahku lho!!! Ada pula yang menyahuti jawaban itu “ iya phooo!!” (dengan nada lirih dan merintih.HAHA). Di Tempat Lain si Wike(katak yang terpisah) merasa bingung , tadi hanya ditinggal untuk buang air kecil sebentar tetapi  sudah tidak ada. Dengan gelisah Wike berlari dan terus berlari namun saat ini rupanya dewi fortuna sedang tidak memihaknya. Ia, salah arah dan semakin menjauh dari koloninya.

Kini sudah saatnya matahari untuk tenggelam dan wike-pun beristirahat di bawah pohon yang besar karena si wike sudah berjalan teramat jauh, tak disangka dan di kira perut wike pun berbunyi “kruckkkk” kencang sampai sang guru kancil(tertidur memeluk mentimun)-pun terbangun. Dan menghampiri sumber suara itu. hingga terjadilah dialog:

Sang guru: kamu membangunkan saya yang sedang bermimpi indah (dengan nada setengah tinggi)

Wike: Maaf, saya sedang lapar. Heuheu

Sg: ini aku punya mentimun, kamu mau?

Wike: iya mau.( saat di gigit “kremck” katak memakan pada bagian sudut yang pahit) pahit sekali!!! Saya menyesal makan buah ini dan wike pun ngomel-ngomel ga jelas(  5 menit kemudian)

Sg: sssttt. Pahit ya tinggal di buang. Gitu aja kok repot ( dengan raut mengejek) kamu ini terlalu banyak membuang energimu untuk hal-hal yang tidak perlu, dengan kamu marah-marah apakah kamu merasakan kenyang? kan tidak! Jika kamu tadi membuang yang pahit dan langsung melanjutkan makan sekarang mungkin kamu sudah kenyang energimu-pun sudah bertambah. Dasar hewan!!

Wike tertawa ter engah-engah dan berkata: HAHA kamu juga hewan.

Sg menjawab, Ooooh iya maaf cuy!

Karena merasa terpukau atas wejangan saang guru, wike-pun memutuskan untuk ikut denganya serambi menunggu datangnya pagi. Dalam perjalanan sang guru dan wike, wike pun curhat kepada sang guru bahwa ia merasa cemas karena di tinggal oleh koloninya sempat terlintas di fikiranya bahwa ia ingin mengakhiri hidupnya. Petuah keluar lagi dari mulut sang guru “ sudahlah itu semua tidak perlu di cemaskan karena semua itu diluar kendalimu. Lagi lagi saya katakan kecemasanmu itu muncul karena kamu tidak bisa mengendalikan hidup di situasi ketidakpastian, jika kecemasan dibiarkan itu akan berlanjut ke ranah stres. Makanya saya sering katakan kepada murid-murid saya “ stres beleh tapi jangan lama-lama, nanti susah beradaptasinya karena nanti kamu tidak tahu posisi stres tidak kah kamu!” dan itu semua akan mengganggu kesehatanmu. “apa yang terjadi di otak itu bisa mempengaruhi badan secara keseluruhan maka tidak heran jika orang stres mengalami sakit lambung atau tegang di leher karena adanya korelasi”

Jika pada manusia hormon stres namanya kristol, kristol ini bersifat oksidatif merusak segala sesuatu yang di hinggapinya. Ketika hinggap pada pankreas dia meningkatkan insulin maka ada jika orang stress bawaanya pengen makan terus. Jika pada hewan saya tidak tahu.HAHAHA

Dahulu sebelum di lepas di hutan ini saya sempat dipenjarakan oleh manusia, dan saya mendengarkan percakapan ini entah valid atau tidaknya informasi ini, tapi saya sangat yakin karena orang yang berbicara adalah orang berseragam putih dan rapih, namanya dokter/ psiko-psiko gitu kok(sang guru bicara pada wike)

Tak lama kemudian, suara keluar dari mulut wike ( aduh!!) kaki wike terjerat jebakan burung. Dasar manusia biadap! mengganggu perjalanan saya saja (ucap wike), dengan sigap sang guru pun menyahut “suatu kejadian itu sesungguhnya netral yang membuat tidak netral itu presepsimu/ value judgment” wike-pun kesal karena sang guru tidak lekas mencari bantuan beberapa katapun keluar dari mulutnya “ sudahlah lepaskan aku jangan banyak bacot!. Lepaskan aku sebelum aku disantap oleh kawanan manusia itu! Tolong tempatkan sesuatu pada situasi dengan tepat. Hewan sekarat tidak butuh bacotanmu tapi butuh untuk dilepaskan dari jeratan ini! dengan santuy sang guru menjawab “ sudah jangan banyak bicara, kita ini memang sering takut di ranah imajinasi padahal jika kamu berfikir logis apakah ada manusia yang doyan dengan katak busuk sepertimu, kan tidak!

Benar saja , di pagi menuju siang kawanan manusia datang untuk melihat jeratanya. Wike pun berpura-pura mati dan mengeluarkan jurus andalanya dengan cara mengeluarkan zat yang ada di dalam tubuhnya yang berbau menyengat. Dengan sedikit kesal kawanan manusia memutuskan tali jeratanya dan meninggalkan lokasi jeratan tersebut. Dengan hati yang sumringah wike menghampiri sang guru yang sedang menunggunya di balik bambu yang rimbun. Belum sempat menyampaikan kegiranganya, sang guru berucap lebih dulu “ apa saya bilang kamu punya seribu cara untuk menghadapi berbagai situasi” wike tertegun dan mengucapkan terimakasih kepada sang guru ( makasih guru kau sudah memberiku sebuah pencerahan yang selama ini kucari)

Ingat ini pesan terakhirku sebelum kita memamg benar-benar berpisah kaupun harus melanjutkan hidup bersama kolonimu, nama tips ini adalah trilogi kendali saya dapatkan dari bertapa di goa pindul dan mendapatkan wahyu buku (filosofi teras) pertama, ada hal-hal yang bisa kamu kendalikan seperti isi otakmu/presepsimu. Kedua, sebagian bisa kamu kendalikan misal dengan pola makan(hidup) sehat tentu kesehatanmu bisa terjaga tetapi tidak mutlak karena banyak faktor eksternal. Ketiga, faktor eksternal atau yang tidak bisa kamu kendalikan misal presepsi/respon yang lain. Merdeka adalah ketika kamu berkuasa untuk tidak memiliki apapun bukan memiliki apapun apa lagi kamu berharap pada faktor eksternal.

Mari kamu saya antar menuju lembah dibalik bukit itu, karena kita memiliki kehidupan masing-masing. Wike menjawab “ baiklah saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya, saya lebih lega dengan wejangan anda tadi”. Dengan mata berkaca-kaca wike berjalan selang berjarak 10 meter sang guru berteriak “ sudahlah jangan jadi hewan lemah! Hidup harus terus berlanjut!!

Selesai......

Salam hangat:

WAHYU EKA SAPUTR